Menyelami lautan hati terdalam sekedar mencari makna pada setiap jejak sang laut yang tercipta

Selamat Datang Tahun 2010

29 Desember 2009 2 komentar

Pada akhirnya, semua adalah perubahan. Dari satu waktu ke waktu berikut. Angka demi angka bertambah. Perubahan fiskal menjadi penanda dan petanda. Masa lalu biarlah membatu dan membeku di tempatnya. Menjadi terumbu karang yang menghiasi lautan kesadaran. Terpendam di balik tumpukan kenangan.

Selamat Datang Tahun 2010, Selamat Datang Perubahan

Categories: Umum

State of Life

29 November 2009 Tinggalkan komentar

Hidup itu mengalir. Ia mengalir seiring kehendak. Kehendak kita sebagai pengada dan juga Kehendak Absolut yang menjadi penggerak utama di balik kehendak kecil kita. Di dalam aliran kehidupan, kita senantiasa dalam keber-gerak-an. Setiap jengkal waktu yang kita masuki selalu mengalami pembaruan-pembaruan.

Sebagaimana ketika melewati sebuah sungai, kita tiada pernah memasuki sungai yang sama untuk kedua kalinya. Sebab aliran sungai senantiasa bergerak maju menuju ujung samudera. Maka saat memasukinya kali kedua, kita hanya menemukan aliran sungai yang berbeda dengan sebelumnya. Begitulah petuah antik dari Negeri Yunani yang tersiar.

Sebab itulah, perubahan adalah keniscayaan. State of Life adalah perubahan-perubahan. Tak ada yang abadi, sebab segalanya selalu bergerak dan berubah. Tak ada yang tersisa terkecuali segala macam kenangan yang terlintas di momen yang berlalu dimana manusia tepat melewatinya. Hukum sejarah kehidupan adalah hukum perubahan. Di antara dalil-dalil perubahan, bahwasanya gerak perubahan menuju suatu kebaikan. Begitulah adanya maklumat yang mesti kita pegang.

Kehidupan bermula dari “Penggerak Yang Tak Digerakkan“ (Unmoved Mover). Terus bergerak menggerakkan semesta hingga ke segala hal terkecil di didalamnya. Gerak harmoni yang membangkitkan segenap penggerak-penggerak kecil lainnya. Terus dan terus hingga kita beserta semesta kembali berhenti guna kembali kepada Penggerak Pertama yang menjadi asal pergerakan kita sebagai pengada. Itulah gerak kehidupan, bermula dari sebuah kemulian menuju suatu kemulian pula.

Mengalir dalam waktu berarti mengalir dalam gerak kehidupan menuju sebuah tujuan yang mulia sebagaimana tersebut diatas. Pun mesti diyakini, bahwa aliran tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Namunb berkelak dan berkelok semata-mata demi menyesuaikan kehendak kecil kita sebagai manusia.

Dalam pergerakannya, prinsip-prinsip utama kebajikan tak boleh luntur meski kita berulangkali tersedak dalam aliran waktu kehidupan. Berkehendak sebagai pengada di bawah langit Kehendak Absolut menjadi niscaya bagi kita sebagai pengada kecil yang bergerak menuju Kebajikan Tertinggi di ujung kehidupan ini.

AFORISME KESATU

Taman Norma

Hendak kemana hidup mengalir? Sebab hidup tak lagi memiliki fondasi. Hidup tanpa fondasi tak beda dengan kematian. Hati, jiwa, dan passion tak lagi tumbuh berkembang. Semuanya telah meranggas tergerus oleh ketidakpedulian. Suasana dan lingkungan yang penuh dengan ketidaktahuan dan ketidakpedulian. “State of live” dalam perjalanan meniti ke-fana-an adalah sebatang pohon. Pohon, eksistensi dari sebuah pengada yang tak berkehendak. Eksistensi pengada satu ini menjadi tuturan bagi sebuah picture untuk nafas kehidupan. Ia tak mampu menjulang tinggi dan membelukar serta merimbun bilamana tak memiliki fondasi yang kuat. Tanah yang subur dan bermineral yang mampu membangun kekuatan kehendak alamiahnya. Tanpanya, eksisitensi in it self tak dapat bergerak dari ke-diri-an-nya. Penggerak-penggerak alamiahnya hanya bergerak di tempat, tak mampu berproses untuk being dan becoming. Sebagaimana eksistensi pengada tak berkehendak itu, eksistensiku sebagai pengada berkehendak pun hampir serupa. Garis antara kehidupan dan kematian menjadi samar. Lingkungan telah membunuh passion sebagai esensi kehidupanku. Di balik cadar ketidaktahuan dan ketidakpedulian semenjak terlahir dalam lingkungan yang sama sekali tak membangun. Kini apa sekarang, tak perlu argumen meminta segalanya. Taman norma pertama telah mengajariku nilai-nilai kematian sejak dini, dan meruntuhkan sekantung nilai yang kuraih di taman-taman norma lainnya. Nilai yang kukumpulkan sepanjang tahun kehidupan menguap begitu saja di dalam taman norma yang pertama. Taman norma pertama itu adalah taman mengambil nilai-nilai dasariah sekaligus taman yang meruntuhkan kembali nilai-nilai yang kudapat di taman norma yang lebih tinggi. Kubawa kesini sekedar untuk ditiadakan. Hmm, semestinya aku tetap menjadi seorang musafir!

AFORISME KEDUA
Harga dan Nilai

Nilai keberhargaan dan kebernilaian hidup tidaklah berada pada hal-hal yang melelahkan dan berada pada himpitan kehinaan. Dasar-dasar penilaian moral tidak harus bertopang pada hal itu. Sebab, keberhargaan dan kebernilaian tidaklah mesti ada pada tindakan ataupun perbuatan yang menguras fisik dan tingkat kerendahan dan kehinaan secara terstandarkan. Mengasong ataupun menjual koran dalam sejarah hidup tidak bisa menjadi dasar-dasar moralitas kehidupan yang baik. Bahwa ungkapan, kebaikan ada pada tiap tindakan yang melelahkan ataupun tindakan yang dianggap rendah adalah keliru. Kebaikan macam itu tak bisa menjadi dasar dan fondasi penilaian dan penghargaan kepada seseorang. Kebaikan ada pada setiap tindakan yang mengusahakan kebaikan itu sendiri. Begitulah seharusnya, kebaikan terbingkai dalam bingkai “imperatif kategoris“. Jadi aku tetaplah bernilai, meski dianggap tak bernlai dan tak berharga sebab belum melakukan tindakan yang “rendah” secara terstandarkan. Namun, memang masing-masing orang memiliki dasar penilaian keberhargaan dan kebernilaian seseorang. Tapi alangkah baiknya untuk tidak menggunakan dasar penilaian yang dipakai selama bertahun-tahun itu, sebab ada yang lebih utama. Yakni diam untuk menilai dan merendahkan satu orang sekedar untuk menghargai dan menganggap bernilai yang lainnya.

AFORISME KETIGA
Jaminan

Mengapa harus takut untuk mati di saat tak memiliki fondasi. Fondasi-fondasi yang menjamin keberlangsungan hidup telah tiada semenjak lama, mungkin semenjak menjadi pengada berpikir. Esensi dari eksistensi jiwaku telah mati, dan inilah kematian pertamaku dalam kebersamaan yang semu. Semu sebab tak memiliki passion dan nilai-nilai kohesivitas di dalamnya. Momen kesemuan adalah sebuah momen yang dirasakan ketika seseorang terjatuh dalam lubang kekacauan kejiwaan tetapi tiada yang membangungkan. Jadi untuk apa takut kepada kematian bilamana itu adalah takdir. Takut untuk apa, sebab sekarang kematian telah mendahului kematian sang jasad. Jiwaku mati dalam ruang hampa nilai-nilai dan tanpa fondasi. Tak ada fondasi apapun untuk bertopang. Eksistensiku sebatas eksistensi kesadaranku. Itu saja, tak lebih.

AFORISME KEEMPAT
Kuasa Kehendak

Apa makna, segenap perubahan bermula dari kehendak manusia sebagaimana orang banyak meyakininya saat berbicara tentang suatu perubahan. Suatu ungkapan yang mereka ambil dari petikan al-Qur`an guna melegitimasi kekuatan kehendak manusia ketimbang Kehendak Tuhan dalam suatu perubahan. Tuhan tidak terlibat dalam sebuah perubahan kecuali sekedar ikut merestui atau tidak sebagaimana terlihat pada hasil akhirnya. Dimanakah posisi kita sebenarnya? Seorang Asyariah atau Mu’tazilah kah yang menjadi pendasaran dalam melihat Kehendak-Nya. Di satu sisi kita mengedepankan kehendak bebas manusia, di tepi berbeda Kehendak Mutlak Tuhan tak bisa dipungkiri. Batas-batas itu begitu buram dan kabur oleh sebab referensi pandangan hidup sebagian orang-orang yang mempengaruhi jalan hidupku. Sebatas pengalaman, aku bisa memahami sebuah perubahan. Dalam sebuah pengalaman ada secercah benderang cahaya kejelasan di balik makna ungkapa diatas. Meski hal itu kudapat tanpa tuntutan teori-teori dari debat para teolog dan metafisikus yang begitu memukau hingga lupa untuk melakukan perubahan. Kealpaan sebab tenggelam dalam tubuh lingkaran waktu ketika mengurai maksud di balik kata-kata yang tertulis di dalam buku. Pengalaman adalah bergerak tanpa teori dan tanpa kehendak apapun, terkecuali atas kehendak untuk bergerak dalam momen keberlangsungan waktu yang tak pernah kembali meski seujung kuku.

AFORISME KELIMA
Kebaikan

Tidak selamanya sesuatu yang disebut baik itu baik. Dalam satu kondisi kebaikan itu bisa menjadi malapetaka bagi si pelaku kebaikan itu sendiri. Adalah kebaikan yang berlebih dan terlampau banyak bisa mematikan kreatifitas seseorang. Sebagai misal, manis yang terlalu manis dapat menempatkan seseorang pada momen kenikmatan yang sangat sehingga meniadakan kesadaran jernihnya. Kebaikan adalah baik pada dirinya sendiri (in it self), bukan di luar dirinya (in the other)

Categories: Umum

Berjalanlah

25 Oktober 2009 Tinggalkan komentar

Berjalanlah,
Karena di jalan engkau akan menemukan jalan.
Tiada jalan selain di jalan.
Karenanya, jalan dan teruslah berjalan.

Berjalanlah,
Meski masa lalu terus menggoda dan menggelayuti pundakmu.
Memaksamu ‘tuk berbalik badan agar tidak berjalan
Lantaran beratnya langkah perjalanan ketika berjalan.

Berjalanlah,
Walau kebimbangan dan keraguan mengiringi jalanmu
Menebarkan pertanyaan-pertanyaan sepanjang perjalanan.
Manakah jalan kebenaran,
Ataukah ini jalan kesesatan.
Hatimu pun menjadi galau karenanya.
Akhirnya engkau pun berhenti berjalan
Karena sibuk mencari jawaban.

Engkau mencari-cari jalan kebenaran
Sedang engkau berhenti berjalan.
Bagaimana engkau akan menemukan jalan kebenaran
Jika engkau sudah tidak lagi  berada di jalan.
Bagaimana pula engkau mampu mengenali jalan kebenaran
Bila dirimu tak terbiasa berjalan.

Jalani saja jalan yang ada!
Nanti di jalan engkau akan menemukan jalan lain
Sesuai jalan kehidupan yang ingin kau jalani
Atau bahkan jalan yang kau ciptakan sendiri
Bila telah mampu berjalan sendiri

Categories: Umum

Tengah Malam

22 Oktober 2009 1 comment

Di  tengah malam 26
Yang pekat dalam kegelapan
Di tengah malam yang kosong dalam keheningan
Telentang seorang anak dalam taburan mimpi misteri kehidupan

Ia tersenyum,
Lalu terkatup dalam balutan hatinya yang meringis dan meratap
Karena terbawa arus misteri yang menggelisahkan hatinya
Air mata pun meleleh
Serupa emosi jiwa saat menyaksikan sinetron-sinetron
Murahan pengumbar kesedihan

Ia merasa jutaan milyar penyesalan seperti gerombolan lalat
Sedang mengerubungi hatinya yang membusuk bagai bangkai
Hatinya tak sanggup mengurai misteri,
Pikiran pun tak mampu memecah pertanyaan seluas angkasa

Hanya air mata,
Hanya air matanya saja
yang sanggup berbicara dalam malam yang sunyi di waktu itu.
Lalu si anak berkata,
Inilah makrifat, inilah tangan-tangan takdir penentu arah hidupku!

Hai kawan, tahukah engkau?
Bahwa puncak kegelapan malam
Adalah ketika pintu-pintu hati terbuka lebar-lebar
Sehingga memberi kesempatan bagi pembisik-pembisik jiwa
Untuk meniupkan mantra-mantranya
Ke dalam kesadaran yang terlepas
Di dalam buaian mimpi-mimpi malam.

Lantunan zikir, shalawat terdengar merdu di dalam mimpi,
Membuat  jiwa yang mendengar terbuai asyik
Sehingga menjadi sugesti-sugesti menyesatkan.
Tanpa pikir panjang, ia pun berkata lagi:
Inilah makrifat, inilah pencapaian tertinggi yang kudapat.

Hai kawan,
Satu hal yang perlu kau ingat.
Dalam keheningan malam
Tak hanya malaikat yang bersandung
Tapi Syetan pun juga ikut bernyanyi,
Karena lagu malam adalah lagunya para pembisik

Categories: Umum

Menanti “Manusia ½ Dewa” Dari Cikeas

20 Oktober 2009 Tinggalkan komentar

posting via email on iphone wordpress.com community

Rakyat tidak perduli siapa yang mimpin. Yang penting kebutuhan hidup yang wajar terpenuhi. Kelaparan kemiskinan dan pengangguran masih terjadi.Ya banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan

Dan Orde Paling Baru, Iwan Fals—

Kemarin, gedung paSBYra anggota dewan sejenak menjadi episentrum perhatian publik. Ada hajatan besar pelantikan presiden dan wakil presiden (20/10) yang menelan biaya 341 juta. Tak kurang,  18.000 personel keamanan dikerahkan untuk mengamankan segenap penjuru Jakarta. Dan 2000 diantaranya, bergerombol di Senayan bersama belasan panser dan water canon. Sekitar 1.339 jurnalis dari 240 media dalam dan luar negeri terjun meliput.

Di tengah eforia dan huru-hara di balik pelantikan dan segenap kebisingan politik kepentingan serta audisi bagi-bagi kekuasan, suara dan harapan rakyat tak boleh dilupakan dalam setiap proses politik yang ada.

Soalnya, sosok pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan oleh rakyat yang lama terjebak dalam “goa kebosanan” sebab tak ada perubahan signifikan di balik setiap momen peralihan kekuasaan sejak era reformasi.

Presiden ½ Dewa

Seperti apa sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat saat ini. Apakah sosok pemimpin yang santun dan baik tutur bahasa serta perilakunya, seorang yang lebih cepat bertindak. Ataukah sosok yang pemimpin yang sekedar  mengidentifikasi dirinya sebagai wong cilik dan pro-rakyat. Ataukah juga kepimpinan yang dibangun di atas perbedaan gender? Jawabannya, bukan!. Sebab “manusia setengah dewa” adalah jawabannya.

Iwan Fals menegaskan, sosok pemimpin yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah seorang pemimpin yang memiliki kualitas “manusia setengah dewa”. Sosok pemimpin setengah dewa dimaksud adalah pemimipin yang mampu memberikan kesejahteraan dan rasa keadilan kepada rakyat. Dua hal itu, kesejahteraan dan keadilan merupakan kebutuhan mendasar dan mendesak saat ini. Hal itu sebagaimana ia tegaskan sebagai berikut:

“…Turunkan harga secepatnya. Berikan kami pekerjaan. Tegakkan hukum setegak tegaknya. Adil dan tegas tak pandang bulu. Pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”,, tegas Iwan Fals dalam lagu Manusia Setengah Dewa.

Lirik diatas sesuai dengan realitas empirik di negeri ini. Persoalan tingginya biaya pendidikan, bahan pokok hingga mahalnya biaya kesehatan menjadi hal yang amat memberatkan rakyat. Terlebih lagi, kondisi ketersediaan lapangan kerja yang minim makin membuat rakyat menderita sebab tak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Maka tak heran, problem kemiskinan, kelaparan dan busung lapar menjadi wajah negeri ini yang tak bisa disembunyikan. Karena itulah, peningkatan dan pemerataan kesejahteraan sosial menjadi agenda dan tugas utama seorang pemimpin bangsa.

Simaklah lirik berikut, “…Kita hidup sering terancam. Tak ada jaminan keselamatan. Kamu ngomong tentang kemakmuran. Tapi makin banyak pengangguran…”, ucapnya dalam lagu Buktikan.

Selain persoalan kesejahteraan diatas, masalah penegakan hukum (law enforcement) dan pemenuhan rasa keadilan juga menjadi hal yang sangat dibutuhkan rakyat. Kesamaan di depan hukum dan hak memperoleh rasa keadilan adalah hak asasi setiap individu di negeri ini yang harus dijaga oleh pemerintah. Maka itu, perlu sosok presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan yang berkualitas “setengah dewa”. Sebab masalah-masalah kasus Lumpur Lapindo, Bank Century, pembunuhan aktivis HAM Munir, korupsi, dan sebagainya yang banyak melibatkan pejabat tinggi negara seperti gubernur, menteri dan politisi Senayan, butuh adanya sikap tegas seorang pemimpin terhadap ketidakadilan yang ada. Oleh karena keadilan di negeri ini adalah barang mewah dan tidak gratis dan kondisi hukum seperti wajah yang muram:

Hal itu seperti ia gambarkan dalam lagu MungkinDi negeri ini apa saja bisa terjadi. Untuk mendapatkan keadilan. Kalau perlu membeli. Yang hitam bisa menjadi putih. Yang putih pun begitu. Terhadap  yang benar saja sewenang wenang, Apalagi yang salah” .  Soal hukum, “Hak asasi hidup disini. Tinggal kata tinggal piagam. Bukan keki bukan bukan patah hati. Sebab hukum berwajah muram. Busyet dah !…”, tegasnya dalam lagu 17 Juli 1996.

Oleh karena itu, prototipe pemimpin “setengah dewa” sebagaimana digambarkan Iwan Fals adalah sosok pemimpin yang sangat dibutuhkan oleh rakyat saat ini. Rakyat hanya berharap Pak Beye dapat menjadi sosok manusia setengah dewa. Yakni sosok pemimpin yang mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat dan menegakkan hukum; dan keadilan yang merata serta peraturan yang sehat dan berpihak pada rakyat. Tak perlu “manusia full-dewa” sebab “setengah dewa” saja sudah menjadi suatu hal yang sulit terpenuhi. Sebuah harapan sederhana dan wajar dari rakyat biasa.

Wahai Presiden kami yang baru. Kamu harus dengar suara ini.Suara yang keluar dari dalam goa. Goa yang penuh lumut kebosanan

—Manusia ½ Dewa, Iwan Fals–-

Categories: politik

Antisipasi Krisis Ketersediaan Logistik Pahala di Hari (H)

28 September 2009 2 komentar

PHILOS3OPHYPADA SABTU MALAM kemarin (04/04), seorang teman mengirim pesansingkat (sms) ke handphone. Isi pesan singkat itu berbunyi begini:

Menurutmu, benar ga sih hidup di dunia untuk
mencari bekal di akhirat?
Berarti, kita hidup mencari surga dong?
Bukankah itu sesuatu yang egois?

Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saya bingung. Pertama, selain menuntut jawaban yang tidak seringkas pertanyaannya. Dan yang kedua, jawaban pertanyaan itu tidaklah mungkin dibalas melalui pesan singkat pula. Karena selain jenis handphone yang jadul, jempol tangan bisa-bisa bengkak dong.

Sehingga saya hanya menjawab singkat:

Hmmm panjang jawabannya.
Justru dengan berharap surga manusia (jadi) ga egois.
Karena masih ada Hari Pertanggung jawaban atas segala yang kita lakukan.

Menyimak pertanyaan Si pengirim sms diatas mengingatkan penulis kepada perkataan seorang teman satu kelas di bangku kuliah. Dia menganalogikan hidup manusia di dunia ini tak jauh berbeda dengan hidupnya seekor ikan Lele di kolam air. Kehidupan ikan Lele di kolam air begitu nyaman.

Di kolam air, Ikan Lele hanya mengenal satu gambaran kehidupan, yaitu kehidupan sebagaimana di dalam air. Selain di dalam air, Ikan lele itu tidak punya pengetahuan apa pun tentang kehidupan di luar air. Karena semenjak lahir dia hanya kenal satu hal, yakni air yang membuatnya bertahan hidup.

Si Lele tidak pernah mengenal apa pun di luar air. Sehingga Si Lele tidak pernah terbayang dirinya bakal di gepruk batok kepalanya; disayat-sayat dan dipotong-potong tubuhnya; dikeluarkan semua isi perutnya; dilemparkan ke dalam minyak mendidih; di guyur sambal pedas lalu disantap. Intinya, Si Ikan Lele ini tidak pernah terbayang bahwa dirinya menjadi “Pecel Lele”.

Si Lele baru mengerti semua itu tatkala dia ketiban sial sebab terjerat oleh kail pancing. Tertarik keluar dari air lantas memasuki kehidupan yang asing. Dimana ia sulit untuk bernafas dan hanya bisa menggelepar tak berdaya. Saat itulah, Si Lele baru mengerti bahwa ada kehidupan selain kehidupan yang selama ini dia jalani.

Ketersediaan Logistik Pahala

Dari cerita Si Lele bernasib sial yang menjadi “Pecel Lele” seperti diatas hanya sekedar ingin beri’tibar soal preparation. Tegasnya, berbagai kemungkinan itu pasti ada. Sehingga bersiap terhadap sesuatu yang “mahjub” lebih baik ketimbang tidak sama sekali.

Kehidupan pasca dunia yang fana adalah misteri. Pengetahuan kita tentang hal-hal eskatologis seperti ini lebih banyak bersumber dari teks-teks agama, terutama Kitab Suci. Disebut disitu, bahwa dunia ini tidak lebih dari sekedar penghampiran sementara dari sebuah perjalanan panjang. Muara perjalanan ini berada pada momen misterius yang di sebut kehidupan akhirat.

Karena manusia itu ter-mahjub, maka kita seyogyanya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti menjadi “Pecel Lele” seperti Si ikan diatas. Guna menghindari itu, maka upaya memenuhi ketersediaan logistik pahala di hari H mesti menjadi agenda utama hidup di dunia yang fana. Toh, tidak ada ruginya kan. Read more…

Uang Bersolasi Di antara Penjual dan Pembeli

21 September 2009 Tinggalkan komentar

tukang es

Seorang penjual es campur mengembalikan uang pembayaran yang ditambal dengan solasi (21/09). Si penjual es di pinggir jalan itu beralasan khawatir uang tersebut tidak laku atau tidak sah. Adalah maklum si penjual es tersebut maupun setiap penjual manapun bersikap hati-hati terhadap alat pembayaran yang sah.

Dengan tenang, saya pun mengganti uang tambalan solasi yang saya berikan tanpa disengaja itu. Awalnya proses penggantian itu berlangsung normal tanpa dialog. Oleh sebab, saya tidak mempermasalahkan ataupun keberatan dengan sikap si pembeli tersebut. Sikap kehati-hatian si penjual itu adalah hal yang sangat wajar, bahkan perlu.

Tetapi, adalah tidak wajar jika si penjual menolak uang tambalan lantas memberi uang kembalian dengan uang tambalan pula kepada pembelinya. Tadi, dia sendiri menolak uang tambalan yang saya berikan tapi justru dia sendiri memberikan uang tambalan.

“Bajigur, Kadal Arab, Kadal Bunting” kata saya dalam hati. Sebenarnya, saya memang berharap ia memberi uang kembalian yang ada tambalannya. Hal itu agar saya bisa memberi counter attack kepada si penjual itu atas character assasination di ruang  publik. Ha..ha..ha..

“Ini pak!” kata saya sambil menyodorkan uang kembalian yang ada tambalannya. Lha kenapa mas. “Biar impas”, jawab saya. “Tadi sampeyan mengembalikan uang tambalan ke saya, tapi kok malah ngasi kembalian dengan uang tambalan juga”. Tapi kan nominalnya lebih kecil mas, ucapnya.

Mendapat jawaban itu, naluri serangan balik semasa menjadi striker  di masa lalu segera muncul.

“Bukan itu persoalannya, sampeyan itu menolak uang tambalan dari pembeli tapi sampeyan malah memberikan uang tambalan juga sebagai kembalian. Itu namanya “sebelas-dua belas alias sama juga boong,” ucap saya datar. Itu persoalan utamanya pak.

Cerita itu pun tak jauh berbeda dengan kisah Si Komeng (Pembeli) dan Mpok Nori (Penjual) dalam suatu acara Wara-Wiri Ramadhan di stasiun televisi Trans7.

Komeng setiap membeli jajanan di warung Mpok Nori selalu dibayar dengan permen jika tidak ada uang kembalian dalam nominal kecil. Uang kembalian yang kurang Rp 100 rupiah diganti dengan satu buah permen.

Oleh Komeng, permen kembalian itu ia kumpulkan hingga terkumpul sepuluh buah permen yang berarti berharga Rp 1000 rupiah. Dengan sepuluh permen itu, Komeng gunakan untuk membeli jajanan yang harganya Rp 1000 rupiah.

Kontan saja, Mpok Nori menolak dibayar dengan permen. Ia beralasan bisa rugi jualannya. Komeng pun tak mau kalah, ia juga merasa dirugikan jika uang kembaliannya diganti dengan permen. “Saya juga rugi dong, coba kalau permennya saya kumpulin terus sampe sepuluh juta rugi dong saya,” kata Komeng sewot. Ha..ha…ha…

Yah intinya, cerita saya ini coba mengilustrasikan suatu pesan moral tak bernomor sebagaimana tulisan Andrea Hirata. Pesan moralnya, apabila anda tidak mau orang lain memberikan sesuatu yang tidak anda suka, maka seyogyanya anda juga tidak memberikan sesuatu yang orang lain tidak suka juga. Jika tidak, itu namanya kebodohan sebelas-dua belas alias jahil murokkab.  Sekian…

Categories: Hitam-Putih Kehidupan

Hardik Seorang Ibu Di Kereta Api

24 Agustus 2009 Tinggalkan komentar

MENJELANG ISYA kereta ekonomi Jakarta-Bogor tiba di Stasiun Manggarai, Jakarta (08/01/09).  Ratusan orang telah bertengger di atas punggung kereta.  Di dalam gerbong pun tak jauh berbeda. Tak ada ruang kosong. Padat dan sesak.  Kereta itu telah bejubel. Aku terdiam sesaat. Otakku berpikir cepat. Memutuskan untuk naik atau menunggu kereta berikutnya. Tak usah menunggu hal yang belum pasti, gumamku dalam hati.

Serentak, tubuhku mendesak masuk membelah kepadatan. Berjihad demi ruang kosong di depan pintu. Bergerak dan berputar cepat. Menyempil mencari sedikit celah sekedar menjejakkan kedua kaki. Belum juga tegak, tubuhku doyong ke depan. Sepatu-sendalku terinjak. Dan Orang-orang di balik tubuhku terus mendorong untuk mendesak masuk. Kakiku tersangkut. Sedang tubuhku memiring hingga benar-benar mendoyong.

Seketika itu, tanganku bergerak refleks mencari penopang. Tanpa kusadari, justru tanganku malah memegang perut seseorang. Bak mercon tersulut api, orang itu pun meledak. “Dasar!”, gelegar suara orang itu. “Masuk kereta malah nyari kesempatan. Kok bisa-bisanya megang perut orang …….. h@!?#$%(&:+$ … (Uppss disensor) … ila akhirihi”.

Aku kaget. Dalam slow motion, kutarik tanganku. Kutegakkan tubuhku. Lalu kepalaku berputar perlahan ke kanan. Detik ke detik. Hingga memutar penuh ke belakang. Mataku mencari arah suara itu.  Dan zleppss, bola mataku ditumbuk tatap kemarahan. Adalah ibu muda berkaos kuning ketat membungkus isi dada yang hendak  tumpah, si pemilik tatapan penuh murka itu. Tanpa melepas tatapannya, ia terus memburuku dengan kata-kata hardik. Entah berapa penghuni kebun binatang yang disebutnya tanpa referensi genus, ordo, ataupun asalnya.

Bak seorang jagoan ditantang musuhnya, aku terdiam tenang tanpa suara. “Ki sanak musti tahu! Saya bukan “penjahat kelamin” yang suka mencopet kemolekan dalam jubelan penumpang di kereta. Saya tidak sengaja memegang perut Kisanak. Dalam situasi berdesak-desakan, apa pun bisa terjadi. Saya minta maaf  kalau sudah membuat Kisanak marah dan terhina. Maaf, saya tidak mau meladeni Kisanak. Secara…saya sedang lelah dan bad mood”, ucapku dalam hati.

Aku tetap berdiam diri. Tapi orasi biadabnya di muka umum terus berlanjut. Dalam kesal yang menggumpal, aku bertekad. Bila dua menit ke depan ia tidak berhenti, maka aku akan bertindak. Dalam otak, aku telah menyiapkan sebuah pledoi (pembelaan). Bila jadi, pledoi ini akan dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pledoi pertama di atas kereta. Dan sejarahnya bakal menandingi Pledoi Bung Karno, “Indonesia Menggugat” yang terkenal itu.

At least,  alhamdulillah, mulut ibu itu pun terkatup. Lelahkah dia. Mungkin juga. Kulepas senyum damai kepadanya. Lalu kutatap sendu nan teduh, menunjukkan aku adalah orang baik-baik. Tanpa kata-kata. Bahkan, tak perlu pe-jlentreh-an bertumpuk-tumpuk. Sebab kebaikan memang tak perlu kata-kata. Terkadang, diam adalah kebaikan yang terbaik.

Categories: Hitam-Putih Kehidupan

Abuya KH. Abdurrahman Nawi; Dari Syafi’iyah Hingga Al-Maliki

24 Agustus 2009 1 comment

abuya 1ABUYA KH Abdurahman Nawi, merupakan salah satu ulama kelahiran Betawi yang banyak dikenal warga Jakarta dan sekitarnya. Tidak heran karena ulama yang tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan ini mengajar dan memberikan ceramah di 14 majelis di lima wilayah ibu kota.

Selain itu, sekalipun usianya sudah berkepala tujuh, tapi kakek  belasan cucu ini masih meluangkan waktunya untuk mengajar di dua persantren yang dibangunnya sendiri. Kedua pesantrennya ini terletak di Jl Raya Sawangan No. 21 Depok yang diberi nama Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Awwabin I. Hanya sekitar lima km terdapat Ponpes Al-Awwabin II di Jl H Sulaeman 12 Bedahan, Sawangan, Depok.

Ketika ditemui Repubklika Selasa (20/7), KH Abdurahaman Nawi yang masih tampak energik dalam usianya yang lanjut, tengah memberikan pengarahan kepada para orang tua calon santri yang tengah mendaftar di Ponpes Al-Awwabin I. Jumlah para murid baru, mulai dari madrasah ibtidaiyah (MI), tsanawiyah (MTs) dan aliyah mencapai ratusan santri.

Ponpes yang luasnya 800 meter persegi ini mempunyai hampir seribu santri. Bila di Ponpes Al-Awwabin I diperuntukan bagi santri laki-laki dan perempuan, tidak demikian dengan Ponpes Al-Awwabin II. Ponpes ini hanya ditujukan bagi santriwati. Sampai hari ini, sebanyak 300 santriwati tercatat menuntut ilmu di lokal baru pesantren ini. Menurut KH Abdurahman, bangunan pesantren akan terus dikembangkan. Luas tanahnya sendiri hampir empat hektar.

”Insya Allah, Ponpes Al-Awwabin akan terus melebarkan sayapnya dengan membuka ponpes di berbagai tempat dengan tujuan untuk memelihara syiar Islam,” katanya. Pendirian Al-Awwabin dirintis lebih dari 20 tahun dan diresmikan tahun 1984. Untuk tujuan mulia ini, kyai yang sehari-hari berpeci putih dan jubah putih, dibantu oleh istrinya, putra-putri, dan menantunya, yang mengajar di kedua Ponpes di Depok. ”Cucu saya juga ikut mengajar,” katanya.

Pengelolaan pesantren juga diserahkan pada mereka. Anaknya, Drs H Ahmad Muchtar memimpin Ponpes Al-Awwabin I. Istrinya memegang kendali Ponpes Al-Awwabin II. Kendati dikelola keluarga, bukan berarti pesantren ini tidak profesional. Lulusan ponpes tidak hanya menjadi ‘jago kandang’ saja, tapi juga berkiprah secara lebih luas. Banyak alumnusnya yang kini menimba ilmu di Universitas Al-Azhar (Mesir) dan Universitas Islam negeri (UIN) Jakarta.

Bahkan, kata kyai yang bicaranya kental dengan logat Betawi, banyak alumninya yang kini menjadi ulama dan membuka pesantren. Ia mencontohkan Pesantren Daarul Mustafa di Jakarta, yang namanya cukup dikenal. Read more…

Categories: Umum

PONDOK PESANTREN PUTRI AL-AWWABIN

24 Agustus 2009 1 comment

abuya 1PONDOK Pesantren Al-Awwabin Putri atau disebut juga Pondok Pesantren Al-Awwabin II berlokasi di Jl. H. Sulaiman No. 12, Perigi, Bedahan, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara, Pondok Pesantren Al-Awwabin I ( putra dan putri) beralamat di Jl. Raya Sawangan No. 21 Kota Depok, dan tempat pendidikan lainnya di Jl. Tebet Barat VI H/3 , Jakarta Selatan

Kampus pesantren berdiri di atas tanah seluas sekitar 4 hektare. Di sini berdiri gedung asrama dengan 12 kamar, 3 lokal gedung sekolah MTs dan 3 lokal gedung sekolah MA, laboratatorium komputer, rumah guru/ustadzah, dan lapangan olah raga (basket).

Di samping pohon-pohon yang membuat udara sejuk, di sisi kanan gedung asrama terdapat tanaman jeruk limau seluas sekitar 1000 m2. Budidaya jeruk limau tersebut dipetik hasilnya setiap 3 bulan sekali.

Santriwati mukim berasal dari berbagai daerah, di antaranya dari Palembang, Aceh, Ambon, Jabodetabek, dan lain-lain.

Pesantren Al-Awwabin didirikan untuk mendidik murid agar memperoleh tambahan ilmu agama dan pengetahuan umum sebagai bekal untuk memainkan peranannya di dalam masyarakat.

Penataan pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Al-Awwabin, selain untuk menjamin penguasaan materi pelajaran yang disajikan, juga memelihara ketertiban/disiplin pondok pesantren dan masyarakat pada umumnya. Hal itu merupakan wujud nyata untuk menyadari para pemuda/pemudi, khususnya kader-kader pemimpin bangsa, negara, dan agama untuk berkesinambungan pada proses menuntut ilmu di pesantren-pesantren sebagaimana Allah swt. berfirman dalam surat At-Taubat 122.

Artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang) mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Read more…

Categories: Umum